Atiqa Mir Geser Pembalap Junior Mercedes dan Raih Pole di Italia

atiqa mir - ilustrasi berita Atiqa Mir Geser Pembalap Junior Mercedes dan Raih Pole di Italia
0 0
Read Time:3 Minute, 16 Second

Atiqa Mir kembali menunjukkan kecepatan luar biasa pada putaran ketiga Champions of the Future Academy (COTFA) di Leopard Circuit, Italia. Atiqa, yang menjadi pembalap India pertama mendapat dukungan Formula 1 Academy, tampil dominan pada sesi kualifikasi dan berhasil merebut pole position setelah menyingkirkan dua pembalap junior Mercedes.

atiqa mir - ilustrasi berita Atiqa Mir Geser Pembalap Junior Mercedes dan Raih Pole di Italia

Momen itu menegaskan bakat pembalap berusia 11 tahun tersebut, yang sebelumnya juga mendominasi ronde kedua seri COTFA di Yunani. Keberhasilan di kualifikasi kali ini bahkan memecahkan rekor acara, dan menarik pujian dari tim serta pelaku paddock.

Atiqa Mir Tampil Memukau di Kualifikasi

Pada sesi kualifikasi di lintasan yang teknis, Atiqa Mir mampu mencatatkan waktu terbaik meski tidak melakukan sesi tes sebelumnya di Leopard Circuit. Di luar ekspektasi banyak pihak, dia unggul atas Niccolo Perico dari Italia dan Devin Titz dari Jerman—keduanya merupakan pembalap junior Mercedes—untuk mengamankan posisi pole.

Perjuangan di Heats dan Final Hari Pertama

Setelah meraih pole, Atiqa mempertahankan performa kuatnya pada heat, berhasil mengamankan posisi kedua dan ketiga dalam berbagai balapan pemanasan. Pada final hari pertama, dia memulai dari posisi kedua dan melakukan manuver berani pada lap pembuka untuk menyalip Niccolo dan memimpin lomba.

Namun, keberuntungan tidak sepenuhnya berpihak. Menurut pernyataan tim, mesin mengalami misfiring saat balapan sehingga Atiqa tak mampu mempertahankan posisi terdepan. Dia kehilangan beberapa tempat tetapi menunjukkan jiwa juang dengan kembali memperbaiki posisi hingga finis di peringkat keenam pada balapan akhir hari itu.

Masalah Mesin Mengganggu Hari Kedua

Hari kedua menjadi rollercoaster. Atiqa mengalami masalah mesin pada sesi kualifikasi sehingga harus puas menempati posisi ke-27. Penyelenggara kemudian mengganti mesin untuk timnya, tetapi kerusakan awal sudah memengaruhi peluangnya pada sesi-sesi selanjutnya.

Walau demikian, pembalap muda ini melakukan pemulihan impresif. Dia melaju dari belakang di setiap heat, memperlihatkan kecepatan dan kemampuan menyalip yang tajam sehingga pada final hari kedua dia memulai dari urutan ke-18.

Insiden di Laga Final dan Penalti untuk Pembalap Lain

Di final hari kedua Atiqa kembali menunjukkan agresivitas: hanya dalam satu setengah lap dia berhasil menyalip sembilan kart dan naik beberapa posisi. Sayangnya, upayanya terhenti ketika sebuah kontak samping dari pembalap lain memaksanya keluar dari lomba. Pejabat balapan kemudian menjatuhkan penalti kepada pembalap yang melakukan tabrakan tersebut.

Meskipun hasil akhir tidak mencerminkan kecepatan sensasional yang dia tampilkan, tindakan berani Atiqa pada lap pertama di hari pertama—menyalip Niccolo setelah unggul di kualifikasi—membuat tanda yang kuat di paddock. Performa itu juga mengingatkan bahwa dalam motorsport, faktor mesin dan perlengkapan dapat merubah hasil secara cepat.

Kata-kata Atiqa dan Dukungan Keluarga

Atiqa menggambarkan akhir pekan itu sebagai pengalaman ‘manis dan pahit’. Dia menyatakan bahwa dirinya mampu memperlihatkan kecepatan melawan pesaing terbaik dunia dan merasa percaya diri setiap kali berada di atas trek, namun mesin dan peralatan menjadi penghalang pada momen-momen penting.

“Ini akhir pekan yang manis dan pahit bagi saya, tetapi saya dapat menunjukkan kecepatan saya melawan yang terbaik di dunia dan mengalahkan mereka. Saya merasa percaya diri setiap kali berada di atas kart, namun mesin dan perlengkapan mengecewakan saya kali ini. Seharusnya bisa menjadi beberapa podium lagi, tapi itu belum rezeki. Motorsport memang bisa keras. Saya puas dengan penampilan saya dan tidak bisa melakukan lebih dari itu,” kata Atiqa dalam pernyataan yang dirilis tim.

Asif Mir, ayah Atiqa dan pencetak sejarah sebagai juara nasional karting pertama India, memberi komentar bahwa anaknya telah melakukan segala yang bisa dilakukan mengingat rangkaian kejadian yang menimpa tim. Dukungan keluarga dan catatan kecepatan yang konsisten menjadikan performa Atiqa di Italia tetap penting untuk perjalanan kariernya.

Penampilan di Leopard Circuit menjadi bukti tambahan bahwa Atiqa Mir bukan sekadar talenta muda yang menjanjikan, melainkan pembalap yang mampu bersaing dengan kandidat-kandidat kuat dari program junior tim besar. Meskipun hasil akhir di klasemen putaran ini tidak sempurna, kecepatan dan keberanian yang ditunjukkan membuka harapan untuk perlombaan berikutnya.

About Post Author

kevin.santoso

Kevin Santoso berpengalaman dalam meliput Formula 1 dengan fokus pada aspek teknis, strategi balapan, performa pembalap, dan perkembangan tim konstruktor di setiap seri Grand Prix.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %