Kontroversi mengenai pengambilan keputusan wasit di Piala Dunia 2026 menyorot masalah konsistensi pengadil. Perbedaan perlakuan terhadap dua insiden kartu merah yang melibatkan Jarell Quansah dan Folarin Balogun memicu kecaman dari mantan hakim garisan dan pengamat sepak bola.

Konsistensi pengadil kini menjadi titik perhatian setelah Quansah dijatuhi kartu merah dalam kemenangan England atas Mexico dan mendapat larangan bermain dua pertandingan, sementara Balogun yang juga menerima kartu merah awalnya diberi satu pertandingan larangan yang kemudian ditarik kembali oleh FIFA setelah peninjauan.
Konsistensi Pengadil dalam Sorotan Publik
Dalam pertandingan yang melibatkan Inggris melawan Meksiko, tekel Jarell Quansah dinilai sebagai pelanggaran serius melalui pemeriksaan bantuan video wasit (VAR) dan berujung pada kartu merah. Sanksi untuk Quansah kemudian diputuskan berupa larangan dua pertandingan yang tidak dapat diajukan banding.
Sementara itu, Folarin Balogun, penyerang tim nasional Amerika Serikat, juga menerima kartu merah pada insiden terpisah. Awalnya FIFA menjatuhkan hukuman satu pertandingan, namun keputusan itu berubah setelah ada proses peninjauan yang berujung pada pencabutan larangan tersebut.
Kritik dari mantan pengadil internasional
Jonas Eriksson, mantan pengadil FIFA yang bertugas selama 16 tahun sejak 2002, juga mengomentari situasi ini. Eriksson menekankan bahwa jika Balogun pantas mendapat satu pertandingan larangan, maka Quansah seharusnya menerima perlakuan yang setara karena kedua insiden dinilai hampir sama. Menurutnya, yang diharapkan publik adalah keputusan yang benar sekaligus konsisten dari para pengadil.
Peran peninjauan dan pengaruh eksternal
Kasus Balogun menjadi semakin sensitif ketika diketahui bahwa Presiden Amerika Serikat dilaporkan mendorong Presiden FIFA untuk meninjau kembali keputusan tersebut. Langkah tersebut, sebagaimana disorot para pengkritik, dianggap memperkeruh situasi karena menimbulkan kesan adanya campur tangan di luar ranah teknis pertandingan.
Pencabutan larangan terhadap Balogun oleh FIFA kemudian menimbulkan tanda tanya tentang standar dan prosedur yang diterapkan saat menilai kembali keputusan wasit. Penggunaan VAR dan mekanisme peninjauan diharapkan memberikan kepastian hukum dan sportivitas, namun dalam kasus ini justru menimbulkan perdebatan mengenai kejelasan kriteria dan penerapan hukuman.
Implikasi bagi citra penyelenggara
Perbedaan putusan dalam insiden yang dinilai hampir sama memberi dampak pada persepsi publik terhadap penyelenggara turnamen. Kritik dari mantan pengadil menyoroti bahwa selain keakuratan keputusan, aspek konsistensi lebih penting untuk menjaga kepercayaan terhadap integritas pertandingan dan otoritas wasit.
Para pengamat menyatakan bahwa apabila standar hukuman tidak diterapkan secara seragam, maka pihak penyelenggara berisiko kehilangan kredibilitas di mata suporter serta pelaku kompetisi. Dalam situasi seperti ini, transparansi proses peninjauan dan alasan di balik perubahan keputusan menjadi aspek yang sangat dinantikan oleh khalayak.
Permintaan konsistensi dalam pengambilan keputusan
Akhirnya, seruan agar keputusan wasit dan badan pengatur bersifat konsisten semakin menguat. Baik Hackett maupun Eriksson menegaskan bahwa kedua insiden layak diperlakukan sama jika dasar penilaiannya sejajar, dan publik menuntut kejelasan serta penerapan aturan yang adil tanpa pengaruh luar.
Perdebatan ini meninggalkan tugas berat bagi penyelenggara untuk menjelaskan prosedur hukuman dan memperkuat kepercayaan terhadap sistem VAR serta mekanisme banding atau peninjauan, sehingga kasus serupa ke depan dapat ditangani dengan standar yang sama.
Baca juga berita lainnya:




























